Tuberkulosis Resistan Obat di Indonesia

Tuberkulosis Resistan Obat di Indonesia

Indonesia menduduki peringkat kedua kasus tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia setelah India. Dari 969.000 kasus TB, sekitar 2,4% merupakan TB resistan obat (TB-RO) yang lebih sulit diobati dengan angka kesembuhan hanya 70%.

Faktor risiko TB-RO meliputi pengobatan tidak tuntas, kontak dengan pasien TB-RO, dan infeksi HIV. Penyalahgunaan antibiotik tanpa resep di apotek swasta juga berkontribusi pada munculnya resistensi obat.

Regimen pengobatan TB-RO menggunakan kombinasi obat lini kedua yang lebih toksik dan mahal. Efek samping seperti neuropati perifer, gangguan pendengaran, dan psikosis memerlukan monitoring ketat selama 18-24 bulan pengobatan.

Program Directly Observed Therapy (DOT) dengan pengawas minum obat yang terlatih menjadi kunci keberhasilan pengobatan TB-RO. Dukungan psikososial dan nutrisi juga penting untuk meningkatkan kepatuhan dan kualitas hidup pasien.

Inovasi diagnosis dengan GeneXpert MTB/RIF memungkinkan deteksi resistensi rifampisin dalam waktu 2 jam. Pemeriksaan ini diharapkan dapat menjangkau 80% suspek TB di Indonesia melalui program perluasan akses diagnostik.

Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.