Penyakit ginjal kronis (PGK) menjadi beban kesehatan global termasuk Indonesia dengan prevalensi 10-15% populasi dewasa. Hipertensi dan diabetes adalah penyebab utama PGK mencapai 70% dari semua kasus.
PGK stadium 5 (gagal ginjal terminal) membutuhkan terapi pengganti ginjal yaitu hemodialisis (HD), peritoneal dialisis (PD), atau transplantasi ginjal. Jumlah pasien yang menjalani HD di Indonesia meningkat 10% per tahun, melebihi kapasitas fasilitas yang ada.
Hemodialisis dilakukan 2-3 kali per minggu selama 4-5 jam. Akses vaskular (AV shunt) merupakan "life line" pasien HD yang harus dijaga dengan baik. Perawat dialisis memiliki peran vital dalam monitoring komplikasi seperti hipotensi dan kram otot.
Diet pada pasien HD sangat ketat meliputi pembatasan cairan (500-800 ml/hari), kalium (<2 gram/hari), dan fosfor (<1 gram/hari). Edukasi diet yang tepat mempengaruhi kualitas hidup dan kelangsungan hidup pasien dialisis.
Transplantasi ginjal merupakan pilihan terbaik dengan kualitas hidup lebih baik dan mortalitas lebih rendah dibanding dialisis. Namun keterbatasan donor dan biaya tinggi menjadi hambatan utama di Indonesia. Program donor ginjal dari keluarga perlu terus disosialisasikan.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.