Nelayan adalah salah satu pekerjaan dengan risiko kesehatan dan keselamatan tertinggi. Kecelakaan kapal, hipotermia, dan dehidrasi adalah risiko utama. Di Indonesia, 500 nelayan meninggal per tahun karena kecelakaan dan 1.000 mengalami cedera.
Penyakit akibat kerja: gangguan muskuloskeletal (mengangkat jaring), penyakit kulit (terpapar air laut dan sinar matahari), dan infeksi (luka karena benda tajam di laut). Hipertensi juga tinggi karena konsumsi garam dan stres.
Pencegahan: penggunaan APD (pelampung, sarung tangan, pelindung matahari), pelatihan keselamatan pelayaran, dan pemeriksaan kesehatan rutin. Ketersediaan P3K dan komunikasi darurat di kapal.
Akses kesehatan di daerah pesisir: puskesmas keliling dan layanan kesehatan mobile. Posyandu nelayan untuk pemeriksaan kesehatan berkala dan edukasi. Program BPJS untuk nelayan dan keluarga.
Edukasi tentang bahaya alkohol saat melaut, tanda-tanda dehidrasi, dan penanganan hipotermia. Komunitas nelayan yang saling mendukung dan sistem peringatan cuaca untuk keselamatan. Kolaborasi dengan Dinas Perikanan dan Kelautan.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.