ASI eksklusif (hanya ASI tanpa makanan/minuman lain) selama 6 bulan pertama adalah rekomendasi WHO. Namun cakupan ASI eksklusif di Indonesia baru 52%, di bawah target 80%. Bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif berisiko 3 kali lebih tinggi mengalami diare dan infeksi saluran napas.
Faktor keberhasilan ASI eksklusif meliputi Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam 1 jam pertama, dukungan suami dan keluarga, konseling laktasi yang adekuat, serta kebijakan ramah ibu menyusui di tempat kerja. IMD meningkatkan produksi ASI hingga 30% pada minggu pertama.
Kendala utama adalah mitos bahwa ASI saja tidak cukup, dan kembali bekerja sebelum 6 bulan. Peran konselor laktasi dan kelompok pendukung ASI sangat penting untuk memberikan edukasi dan mengatasi masalah menyusui seperti puting lecet dan ASI sedikit.
Peraturan pemerintah tentang ruang laktasi di tempat kerja dan fasilitas umum mendukung ibu bekerja untuk tetap memberikan ASI. Fasilitas ASI perah dan lemari pendingin di tempat kerja menjadi fasilitas yang wajib disediakan oleh perusahaan besar.
Perawat dan bidan memiliki peran kunci dalam mendukung keberhasilan ASI. Pelatihan konseling laktasi bagi tenaga kesehatan meningkatkan durasi pemberian ASI hingga 6 bulan. Program "10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui" di rumah sakit juga meningkatkan cakupan ASI eksklusif.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.