Osteoporosis dan Risiko Fraktur pada Lansia (Bagian 7)

Osteoporosis dan Risiko Fraktur pada Lansia (Bagian 7)

Osteoporosis adalah penurunan massa tulang yang meningkatkan risiko fraktur. Prevalensi di Indonesia: 20% pada wanita dan 7% pada pria di atas 50 tahun. Fraktur osteoporotik paling umum: vertebra (50%), pinggul (20%), dan pergelangan tangan (15%).

Faktor risiko: usia, menopause, defisiensi vitamin D/kalsium, dan obat-obatan (kortikosteroid). Skrining dengan DEXA untuk lansia dengan risiko tinggi. DEXA mengukur BMD (bone mineral density), T-score <-2.5 menunjukkan osteoporosis.

Pencegahan: suplementasi kalsium (1000-1200 mg/hari), vitamin D (800-1000 IU/hari), dan latihan beban (jalan, angkat beban ringan). Obat anti-osteoporosis: bifosfonat, denosumab, atau SERMs untuk wanita postmenopause.

Manajemen fraktur: stabilisasi, rehabilitasi, dan pencegahan jatuh. Fraktur pinggul membutuhkan tindakan bedah dalam 24-48 jam. Rehabilitasi untuk memulihkan mobilitas dan mencegah disabilitas.

Edukasi tentang osteoporosis: diet kaya kalsium (susu, ikan, kacang), paparan sinar matahari untuk vitamin D, dan aktivitas fisik. Program "Gerakan Cegah Osteoporosis" di komunitas dengan skrining dan edukasi.

Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.