Nyeri kronis menjadi keluhan utama pada 60% lansia di Indonesia. Osteoarthritis, neuropati diabetik, dan nyeri punggung bawah adalah penyebab paling umum yang mengganggu kualitas hidup dan aktivitas fungsional harian.
Penilaian nyeri pada lansia membutuhkan pendekatan khusus karena penurunan fungsi kognitif dapat mempengaruhi kemampuan melaporkan nyeri. Penggunaan skala nyeri dengan pendekatan behavioral dan observasi menjadi alternatif pada lansia dengan demensia.
Terapi farmakologi dengan parasetamol tetap menjadi lini pertama karena profil keamanannya. Penggunaan NSAID harus hati-hati karena risiko gangguan ginjal dan lambung. Opioid digunakan pada nyeri berat dengan monitoring ketat terhadap efek samping konstipasi dan sedasi.
Pendekatan non-farmakologi seperti terapi fisik, akupunktur, dan relaksasi terbukti efektif mengurangi intensitas nyeri. Program latihan keseimbangan dan penguatan otot juga membantu mencegah jatuh yang merupakan komplikasi nyeri pada lansia.
Perawat geriatri berperan sebagai koordinator perawatan multidisiplin dalam manajemen nyeri. Edukasi kepada keluarga tentang pentingnya kepatuhan minum obat dan terapi non-farmakologi menjadi kunci keberhasilan manajemen nyeri di rumah.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.