Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, ditularkan melalui air atau tanah yang terkontaminasi urin hewan (tikus, sapi, anjing). Kasus meningkat saat banjir, dengan 1.500 kasus per tahun di Indonesia dan angka kematian 10-15%.
Gejala klinis: demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot (betis), dan konjungtivitis. Pada kasus berat, terjadi sindrom Weil (ikterus, gagal ginjal, perdarahan) dengan mortalitas 20-50% jika tidak ditangani tepat waktu.
Diagnosis dini dengan pemeriksaan IgM atau PCR penting karena gejala mirip DBD dan malaria. Kultur dapat dilakukan namun membutuhkan waktu. Pemberian antibiotik (doksisiklin atau penisilin) efektif jika diberikan dalam 7 hari pertama gejala.
Pencegahan: menggunakan sepatu boot dan sarung tangan saat banjir, pengendalian tikus, dan vaksinasi hewan. Pembersihan lingkungan dan drainase yang baik mencegah kontak dengan air tercemar. Edukasi masyarakat di daerah rawan banjir sangat penting.
Kolaborasi lintas sektor (kesehatan, pekerjaan umum, lingkungan) dalam penanggulangan leptospirosis saat banjir. Pemberian profilaksis doksisiklin untuk petugas kebersihan dan relawan yang kontak dengan air banjir mengurangi risiko infeksi hingga 80%.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.