Kolera dan diare menjadi masalah kesehatan utama saat bencana banjir. Bakteri Vibrio cholerae menyebar melalui air minum dan makanan terkontaminasi. Wabah sering terjadi 1-2 minggu setelah banjir di pengungsian dengan sanitasi buruk.
Gejala kolera: diare cair masif (rice water stool) yang menyebabkan dehidrasi berat. Mortalitas mencapai 50% jika tidak ditangani, namun dengan rehidrasi oral cepat dapat turun <1%. Diare akut dapat disebabkan oleh E. coli, Shigella, dan rotavirus.
Penanganan: rehidrasi oral (ORS) segera, zinc untuk anak, antibiotik (azitromisin/doksisiklin) pada kasus berat. Fasilitas posko kesehatan harus menyediakan ORS dan sarana rehidrasi intravena untuk kasus dehidrasi berat.
Pencegahan: penyediaan air bersih dan sanitasi darurat, distribusi tablet klorin, dan edukasi mencuci tangan dengan sabun. Vaksin kolera oral (Shanchol) diberikan pada populasi risiko tinggi di daerah bencana.
Surveilans dini dan sistem peringatan wabah diperlukan di pengungsian. Pelaporan kasus diare setiap hari dan investigasi epidemiologi untuk mengidentifikasi sumber kontaminasi. Koordinasi antar lembaga kemanusiaan penting untuk respons cepat.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.