Asfiksia neonatus adalah kegagalan bayi untuk bernapas spontan dalam 1 menit setelah lahir, penyebab kematian neonatus terbesar di Indonesia. Prevalensi 10-20 per 1000 kelahiran hidup dengan kematian 30% jika tidak ditangani dengan baik.
Faktor risiko: persalinan lama, bayi prematur, dan gawat janin (mekonium). Gejala: bayi tidak menangis, warna kebiruan, dan tonus otot menurun. Skor Apgar <4 pada menit ke-1 memerlukan resusitasi segera.
Penanganan: resusitasi dengan metode PPV (Positive Pressure Ventilation) menggunakan bag-mask, intubasi jika perlu, dan kompresi dada. Tim resusitasi terlatih dan perlengkapan yang siap di ruang bersalin adalah kunci.
Program ASI inisiasi dini setelah stabilisasi. Perawatan dengan inkubator dan oksigenasi. Monitoring suhu, gula darah, dan tanda vital. Edukasi orang tua tentang tanda bahaya dan perawatan bayi pasca resusitasi.
Pencegahan: perawatan antenatal yang baik, deteksi gawat janin selama persalinan (CTG), dan persiapan resusitasi untuk setiap persalinan. Pelatihan resusitasi neonatus bagi bidan dan dokter di semua fasilitas kesehatan.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.