Kecacingan pada anak-anak di Indonesia masih menjadi masalah dengan prevalensi 30-40% di beberapa daerah. Cacing gelang (Ascaris), cacing cambuk (Trichuris), dan cacing tambang adalah spesies utama. Sanitasi yang buruk dan perilaku cuci tangan kurang menjadi faktor risiko.
Gejala: sakit perut, gangguan nafsu makan, penurunan berat badan, dan anemia (cacing tambang). Kecacingan kronis mengganggu penyerapan nutrisi dan pertumbuhan. Anak dengan kecacingan berat dapat mengalami obstruksi usus.
Diagnosis dengan pemeriksaan tinja (Kato-Katz atau langsung). Pengobatan: albendazole 400 mg dosis tunggal atau mebendazole 500 mg untuk 3 hari. Pengobatan massal di sekolah dilakukan 2 kali setahun di daerah endemis.
Pencegahan: PHBS (cuci tangan dengan sabun, memakai alas kaki, mengonsumsi makanan matang), sanitasi (jamban sehat), dan pengelolaan sampah. Edukasi tentang siklus penularan cacing dan pentingnya kebersihan.
Program sekolah sehat: cuci tangan bersama, kuku pendek, dan konsumsi makanan bergizi. Monitoring kesehatan anak dengan skrining cacingan di sekolah. Peran guru dan orang tua dalam mengawasi kebersihan anak.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.