Kanker Endometrium: Faktor Risiko dan Pencegahan (Bagian 14)

Kanker Endometrium: Faktor Risiko dan Pencegahan (Bagian 14)

Kanker endometrium merupakan kanker ginekologi kedua tersering setelah kanker serviks. Insiden meningkat seiring dengan epidemi obesitas dan sindrom metabolik. Di Indonesia, terdapat 15.000 kasus baru per tahun dengan kematian 5.000 kasus.

Faktor risiko utama adalah obesitas, diabetes, hipertensi, dan terapi hormon estrogen tanpa progesteron. Paparan estrogen berlebihan tanpa progesteron menyebabkan proliferasi endometrium yang tidak terkendali. Sindrom ovarium polikistik (PCOS) juga meningkatkan risiko 3 kali lipat.

Gejala khas adalah perdarahan uterus abnormal pasca menopause atau perdarahan antar menstruasi pada wanita premenopause. Seringkali pasien datang terlambat karena menganggap perdarahan sebagai tanda menopause normal.

Diagnosis ditegakkan dengan USG transvaginal yang menunjukkan penebalan endometrium >4 mm, dilanjutkan biopsi endometrium (pipelle) atau kuretase. Skrining pada populasi risiko tinggi belum direkomendasikan, namun edukasi tentang gejala awal sangat penting.

Pencegahan meliputi kontrol berat badan, pengobatan diabetes/hipertensi, dan penggunaan kontrasepsi oral kombinasi (menurunkan risiko 50%). Wanita dengan riwayat endometriosis atau infertilitas memerlukan monitoring ginekologi rutin setiap 6 bulan.

Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.