Pasien geriatri sering menggunakan banyak obat (polifarmasi), dengan 40% lansia mengonsumsi >5 obat per hari. Interaksi obat-obat meningkatkan risiko efek samping dan rawat inap. Antikoagulan, antiplatelet, dan NSAID adalah obat dengan risiko tinggi.
Interaksi farmakokinetik: perubahan penyerapan, distribusi (lemak meningkat), metabolisme (fungsi hati menurun), dan eliminasi (fungsi ginjal menurun). Interaksi farmakodinamik: efek aditif/sinergis atau antagonis pada reseptor.
Contoh interaksi: warfarin dengan NSAID (risiko perdarahan), ACE inhibitor dengan diuretik (hipotensi), dan antikolinergik dengan antipsikotik (gangguan kognitif). Daftar Beers Criteria (obat yang tidak dianjurkan untuk lansia) digunakan sebagai panduan.
Strategi: deprescribing (mengurangi obat yang tidak perlu) secara hati-hati, review obat setiap 6-12 bulan, dan penggunaan dosis terendah. Alat bantu seperti pill organizer dan jadwal minum obat meningkatkan kepatuhan.
Peran apoteker: medication reconciliation, edukasi tentang interaksi, dan monitoring efek samping. Konseling tentang cara minum obat yang benar dan tanda bahaya efek samping.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.