Infertilitas dan Pilihan Terapi Reproduksi (Bagian 5)

Infertilitas dan Pilihan Terapi Reproduksi (Bagian 5)

Infertilitas didefinisikan sebagai kegagalan mencapai kehamilan setelah 12 bulan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi. Prevalensi infertilitas di Indonesia mencapai 10-15% pasangan usia reproduksi, dengan 30% disebabkan faktor pria, 30% wanita, dan 40% kombinasi/kausa tidak diketahui.

Penyebab infertil pada wanita meliputi gangguan ovulasi (PCOS, 30%), tuba falopi (20%), endometriosis (15%), dan faktor uterus (10%). Pada pria, penyebab utama adalah gangguan produksi sperma (azoospermia, oligospermia) dan disfungsi ereksi.

Pemeriksaan infertilitas mencakup analisis sperma (pria), monitoring ovulasi, histerosalpingografi (tuba), dan hormon. USG transvaginal dan AMH (Anti-MΓΌllerian Hormon) menilai cadangan ovarium untuk menentukan prognosis keberhasilan terapi.

Terapi reproduksi berbasis tingkat: induksi ovulasi (klomifen), inseminasi intrauterin (IUI), dan IVF (bayi tabung). IVF memiliki keberhasilan 30-40% per siklus pada wanita <35 tahun, menurun menjadi 10% pada usia >40 tahun.

Tantangan di Indonesia adalah biaya IVF yang mahal (>Rp 50 juta) dan akses terbatas (hanya di kota besar). Edukasi tentang infertilitas dan dukungan psikologis sangat penting mengingat stigma sosial yang masih melekat pada pasangan infertile.

Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.