Hepatitis masih menjadi beban kesehatan di Indonesia dengan prevalensi Hepatitis B 7,1% dan Hepatitis C 1%. Hepatitis B adalah penyebab utama sirosis dan kanker hati, sedangkan Hepatitis A dan E sering terjadi pada populasi dengan sanitasi buruk.
Hepatitis B: vaksinasi sejak bayi (3 dosis) efektif mencegah infeksi. Program vaksinasi hepatitis B di Indonesia mencapai 95% namun masih ada kesenjangan di daerah terpencil. Pengobatan Hepatitis B kronis dengan tenofovir atau entecavir dapat menekan replikasi virus.
Hepatitis C: pengobatan dengan DAAs (Direct Acting Antivirals) memiliki tingkat kesembuhan >95% dalam 8-12 minggu. Akses ke DAAs masih terbatas karena biaya, namun program BPJS mulai mencakup terapi hepatitis C sejak 2023. Eliminasi hepatitis C 2030 menjadi target nasional.
Hepatitis A dan E: pencegahan dengan sanitasi, air bersih, dan vaksinasi hepatitis A untuk kelompok risiko (pekerja pangan, anak-anak). Wabah sering terjadi pada musim hujan dan di daerah dengan sanitasi buruk.
Skrining hepatitis B pada ibu hamil untuk pencegahan penularan vertikal adalah program prioritas. Pemberian HBIG dan vaksin pada bayi dari ibu HBsAg positif dalam 12 jam setelah lahir mengurangi risiko infeksi hingga 90%.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.