Kebutuhan nutrisi lansia berubah: kebutuhan protein meningkat (1,2-1,5 g/kgBB) untuk mencegah sarcopenia, kebutuhan energi menurun, dan kebutuhan vitamin D/kalsium meningkat. Malnutrisi terjadi pada 30% lansia di komunitas dan 50% di rumah sakit.
Masalah gizi pada lansia: penurunan nafsu makan, gangguan gigi, dan kesulitan menelan (disfagia). Pola makan: kaya protein (daging, ikan, telur, tahu/tempe), serat (sayuran, buah), dan cairan (1,5-2 liter/hari).
Diet khusus: untuk hipertensi (diet rendah garam), diabetes (kontrol karbohidrat), dan CKD (rendah kalium/fosfor). Suplementasi jika diperlukan: multivitamin, kalsium, dan vitamin D.
Edukasi: isi piringku untuk lansia, cara memasak yang mudah dikunyah, dan jadwal makan teratur. Program makan bersama di posyandu lansia untuk meningkatkan asupan dan interaksi sosial.
Monitoring: berat badan (BB) dan status gizi (LILA, IMT) setiap bulan. Skrining risiko malnutrisi dengan MNA (Mini Nutritional Assessment) di fasilitas kesehatan. Intervensi gizi dini mencegah komplikasi dan menurunkan mortalitas.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.