Gangguan Pendengaran pada Lansia (Presbikusis) (Bagian 4)

Gangguan Pendengaran pada Lansia (Presbikusis) (Bagian 4)

Presbikusis adalah gangguan pendengaran sensorineural terkait usia yang mempengaruhi 30-50% lansia >65 tahun. Penyebab: degenerasi sel rambut koklea dan saraf pendengaran. Faktor genetik dan pajanan bising mempercepat proses.

Gejala: kesulitan mendengar suara frekuensi tinggi, percakapan dalam keramaian, dan tinitus. Gangguan pendengaran menyebabkan isolasi sosial, depresi, dan gangguan kognitif (risiko demensia 2-3 kali lebih tinggi).

Diagnosis: audiometri (tes nada murni) menunjukkan penurunan persepsi frekuensi tinggi. Pemeriksaan fisik untuk mengecualikan serumen atau gangguan konduksi.

Tatalaksana: alat bantu dengar (ABD) untuk presbikusis sedang-berat, implan koklea untuk yang berat. ABD perlu diprogram sesuai kebutuhan dan dilakukan konseling agar terbiasa. Latihan mendengar dan komunikasi (speech reading).

Edukasi: pentingnya pemeriksaan pendengaran rutin dan penggunaan ABD. Modifikasi lingkungan (penerangan baik, komunikasi face-to-face). Dukungan keluarga dalam komunikasi dan mengurangi isolasi sosial.

Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.