Filariasis atau penyakit kaki gajah masih endemis di 34 provinsi Indonesia dengan 10.000 kasus kronis. Penyebabnya adalah cacing filaria Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Target eliminasi 2030.
Manifestasi klinis: demam berulang, pembengkakan kelenjar getah bening, elefantiasis (kaki gajah), dan hidrokel. Keterlambatan pengobatan menyebabkan deformitas permanen dan kecacatan. Stadium kronis membutuhkan manajemen lymphedema dan rehabilitasi.
Program POPM (Pemberian Obat Pencegahan Massal) filariasis dengan DEC (diethylcarbamazine) dan albendazole dilakukan setahun sekali selama 5 tahun di daerah endemis. Cakupan POPM nasional 85%, namun beberapa daerah masih di bawah 70% karena keraguan masyarakat.
Manajemen kasus kronis meliputi perawatan luka (karena sering terjadi selulitis), latihan fisik untuk mengurangi pembengkakan, dan pemakaian kompresi. Hidrokel diatasi dengan operasi. Dukungan psikososial bagi penderita dengan kecacatan penting untuk kualitas hidup.
Edukasi masyarakat tentang pencegahan gigitan nyamuk dan kepatuhan minum obat POPM adalah kunci. Kampanye menggunakan tokoh masyarakat dan pemuka agama meningkatkan penerimaan program. Survei kepatuhan berkala dilakukan untuk evaluasi program.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.