Demensia adalah sindrom dengan penurunan kognitif yang mengganggu aktivitas harian. Prevalensi demensia di Indonesia 15% pada lansia >60 tahun, dengan Alzheimer (60-70%) dan demensia vaskular (20%) sebagai jenis utama. Faktor risiko: usia, genetik, hipertensi, diabetes, dan gaya hidup.
Gejala Alzheimer: gangguan memori jangka pendek, kesulitan bahasa, disorientasi, dan perubahan perilaku. Demensia vaskular onset mendadak setelah stroke dan progresi bertahap. Diagnosis dengan pemeriksaan kognitif (MMSE, MoCA) dan imaging (CT/MRI).
Pengobatan: inhibitor asetilkolinesterase (donepezil, rivastigmine) dan memantine untuk Alzheimer. Kontrol faktor risiko vaskular (hipertensi, diabetes, lipid) untuk demensia vaskular. Terapi non-farmakologi: stimulasi kognitif, terapi aktivitas, dan modifikasi lingkungan.
Dukungan pengasuh: beban pengasuhan demensia sangat tinggi, 50% pengasuh mengalami depresi. Program pelatihan pengasuh dan caregiver support group sangat penting. Manajemen perilaku (agitasi, wandering) dengan pendekatan non-farmakologi terlebih dahulu.
Edukasi masyarakat tentang demensia, pentingnya deteksi dini, dan pengurangan stigma. Program "Lansia Cerdas" dengan stimulasi kognitif dan aktivitas sosial untuk mencegah demensia. Kolaborasi dengan layanan sosial dan komunitas untuk mendukung lansia dengan demensia.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.