Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf yang mempengaruhi komunikasi dan perilaku. Prevalensi ASD di Indonesia diperkirakan 1 dari 100 anak, namun banyak yang tidak terdiagnosis karena kurangnya layanan.
Tanda dini: tidak menoleh saat dipanggil nama (6-9 bulan), tidak menunjuk (12 bulan), hilangnya kemampuan bahasa (18 bulan), dan perilaku repetitif (hand flapping, spinning). Skrining M-CHAT dapat dilakukan di posyandu.
Penyebab: multifaktorial (genetik, lingkungan, dan gangguan neuroinflamasi). Belum ada obat yang menyembuhkan, namun intervensi dini (terapi perilaku ABA, terapi wicara, dan okupasi) dapat meningkatkan fungsi dan kualitas hidup.
Dukungan bagi orang tua: konseling, pelatihan terapi di rumah, dan dukungan psikologis. Program "Sekolah Inklusi" dan edukasi masyarakat tentang autisme mengurangi stigma dan diskriminasi.
Peran tenaga kesehatan dalam deteksi dini: skrining perkembangan di posyandu dan rujukan ke psikiater anak/terapis. Kolaborasi dengan pendidikan dan sosial untuk layanan terpadu bagi anak autisme.
Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.
Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.