Anemia pada Ibu Hamil dan Dampaknya (Bagian 6)

Anemia pada Ibu Hamil dan Dampaknya (Bagian 6)

Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah serius di Indonesia dengan prevalensi 38,5%. Anemia defisiensi besi adalah jenis paling umum (85%) akibat asupan zat besi yang tidak adekuat dan perdarahan saat persalinan sebelumnya.

Dampak anemia pada ibu hamil meliputi peningkatan risiko BBLR, prematuritas, dan kematian ibu. Bayi dari ibu anemia berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif akibat suplai oksigen dan zat besi ke janin yang kurang optimal.

Pencegahan anemia dimulai dari masa remaja dengan suplementasi zat besi mingguan. Pada ibu hamil, tablet tambah darah (60 mg zat besi + 400 mcg asam folat) diberikan 90 tablet selama kehamilan. Kepatuhan minum tablet besi masih rendah (45%) karena efek samping mual.

Edukasi gizi tentang makanan kaya zat besi (hati, daging, sayuran hijau) dan penyerap (vitamin C) perlu diberikan. Kombinasi dengan makanan yang menghambat penyerapan (teh, kopi, susu) harus dihindari dalam waktu bersamaan dengan konsumsi tablet besi.

Deteksi anemia dilakukan dengan pengukuran Hb minimal 4 kali selama kehamilan. Pemberian asam folat sejak perencanaan kehamilan (3 bulan sebelum konsepsi) juga terbukti menurunkan risiko anemia dan cacat tabung saraf pada janin.

Pengelolaan kesehatan masyarakat membutuhkan perencanaan yang terarah, berbasis data, serta melibatkan tenaga kesehatan dan masyarakat. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif dan rehabilitatif.

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan juga memerlukan evaluasi secara berkala. Data hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, dan memperbaiki pelaksanaan program kesehatan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program studi dan pendidikan, kunjungi MKM Universitas MH Thamrin.